Mahasiswa STIEM Bongaya Angkatan 51 Gelar KKL Inklusif di Kecamatan Pattallassang

HUMAS STIEM BONGAYA, GOWA – Suasana empat desa di Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tampak berbeda dalam sepekan terakhir. Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Angkatan ke-51 STIEM Bongaya turun langsung ke tengah masyarakat, menggelar berbagai program yang menyasar anak-anak, ibu-ibu, hingga pelaku ekonomi desa.

Sebanyak 42 mahasiswa terbagi dalam empat kelompok yang disebar ke Desa Timbuseng, Desa Borong Palala, Desa Sunggumanai, dan Desa Pattallassang. Program yang mereka rancang tidak hanya menyentuh aspek edukasi dan ekonomi, tetapi juga menyentuh nilai-nilai spiritual dan budaya lokal.

“Mahasiswa kami dorong agar mampu merancang program yang relevan dengan kebutuhan desa, dan tetap dalam bingkai Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujar Kepala LPPM sekaligus Ketua Panitia KKL STIEM Bongaya, Dr. Herman Syahruddin, SE., MM., kepada Herald Sulsel, Rabu, 6 Agustus 2025. 

Herman menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar rutinitas akademik, tetapi juga wujud nyata dari integrasi kampus dengan masyarakat. Di tengah-tengah desa, para mahasiswa membaur dan belajar langsung dari masyarakat setempat.

Salah satu program unggulan yang disambut antusias adalah literasi keuangan untuk anak usia dini. Di beberapa SD, mahasiswa mengajarkan pentingnya menabung sejak kecil, menggunakan media kreatif seperti botol bekas yang diolah menjadi celengan. Anak-anak diajak bermain sambil belajar untuk mengelola uang saku mereka secara bijak.

Tak hanya itu, semangat kemerdekaan juga dijaga lewat pelestarian lingkungan. Setiap kelompok mahasiswa bergerak menghias sudut desa menyambut HUT RI ke-80, sekaligus mengajak warga untuk menjaga kebersihan dan estetika lingkungan.

Di sektor kesehatan masyarakat, mahasiswa juga mendampingi kader-kader posyandu. Mereka memberikan pelatihan manajemen pelayanan sederhana namun efektif, agar kegiatan posyandu lebih tertib dan tepat sasaran.

Ada pula program pendampingan anak-anak dalam membaca Al-Qur’an, terutama di desa yang masih kekurangan tenaga pengajar agama. “Ini salah satu bentuk kontribusi spiritual yang kami dorong agar mahasiswa tidak hanya peka sosial tapi juga peduli nilai-nilai keagamaan,” tambah Herman.

Tak kalah penting, mahasiswa juga menjembatani digitalisasi layanan keuangan desa dengan menggandeng pihak perbankan untuk pengenalan dan pembuatan kode QR pembayaran. Program ini menjadi bagian dari transformasi ekonomi digital di level desa.

Herman menegaskan bahwa KKL bukan semata kerja tiga bulan, melainkan bekal karakter dan pemahaman mahasiswa terhadap kehidupan riil. “Kami ingin mahasiswa pulang dengan pengalaman yang mengubah cara pandang mereka tentang pengabdian dan tanggung jawab sosial,” tutupnya.

Empat desa, puluhan mahasiswa, dan satu semangat: menjadikan ilmu sebagai lentera bagi masyarakat desa. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *